Pendahuluan
Di era digital, siapa pun bisa dikenal luas — bukan hanya artis atau influencer.
Mahasiswa pun bisa membangun nama dan reputasi pribadi lewat media sosial.
Inilah yang disebut personal branding: bagaimana kamu menampilkan diri secara profesional, menarik, dan autentik di dunia online.
Bagi mahasiswa Universitas Kewirausahaan Umat (UKU), personal branding bukan sekadar gaya hidup.
Ini adalah strategi masa depan untuk menyiapkan karier, bisnis, dan jejaring profesional sejak di bangku kuliah.
Apa Itu Personal Branding?
Personal branding adalah cara seseorang mempresentasikan diri dan nilai-nilainya kepada dunia.
Tujuannya bukan untuk pura-pura jadi orang lain, tapi menampilkan versi terbaik dari dirimu secara konsisten.
Di TikTok dan Instagram, personal branding bisa berarti:
- Membagikan konten edukatif atau inspiratif,
- Menampilkan keahlian atau hobi tertentu,
- Menunjukkan nilai yang kamu pegang (misalnya: disiplin, inovatif, religius, atau peduli sosial).
Orang tidak hanya membeli produkmu, tapi juga percaya pada pribadimu.
Mengapa Mahasiswa UKU Harus Membangun Personal Branding?
Karena di dunia modern, reputasi digital adalah CV baru.
Sebelum menerima kerja sama atau merekrut karyawan, banyak perusahaan dan investor melihat profil media sosial terlebih dahulu.
Dengan personal branding yang kuat, kamu bisa:
- Lebih mudah dikenal sebagai calon pengusaha muda,
- Membangun kredibilitas di bidang tertentu,
- Menarik peluang kerja, kolaborasi, atau investasi.
Dunia digital tidak menunggu — yang berani tampil lebih dulu akan selangkah di depan.
1. Kenali Siapa Dirimu dan Apa Nilaimu
Langkah pertama dalam personal branding adalah mengetahui keunikan dirimu.
Tanyakan hal ini pada diri sendiri:
- Apa keahlian atau passion-ku?
- Topik apa yang aku sukai untuk dibahas setiap hari?
- Nilai apa yang ingin aku bawa dalam hidup dan bisnis?
Contohnya:
Jika kamu mahasiswa bisnis UKU, kamu bisa dikenal sebagai “pembelajar wirausaha muda yang suka berbagi tips keuangan mahasiswa.”
Dengan cara itu, kamu menampilkan identitas yang jelas dan relevan.
2. Pilih Platform yang Tepat
Tidak semua platform harus kamu gunakan. Fokuslah pada yang paling cocok dengan gaya dan audiensmu.
- Instagram: Cocok untuk menampilkan gaya hidup, perjalanan, desain produk, atau kegiatan kampus.
- TikTok: Ideal untuk video edukatif singkat, motivasi, dan hiburan kreatif.
- LinkedIn: Tempat terbaik untuk membangun jaringan profesional dan reputasi akademik.
Gunakan dua platform utama secara konsisten agar audiens mengenalmu dengan mudah.
3. Konsisten dengan Gaya dan Pesanmu
Orang akan mengingatmu karena konsistensi.
Buat citra yang sama di semua platform: warna, nada bicara, dan topik utama.
Misalnya:
- Gunakan satu warna tema di semua posting.
- Fokus pada topik tertentu seperti kewirausahaan, motivasi, atau gaya hidup produktif.
- Gunakan bio yang menggambarkan siapa kamu dan apa tujuanmu.
Konsistensi bukan berarti kaku, tapi terarah.
4. Buat Konten Bernilai, Bukan Hanya Viral
Jangan hanya kejar jumlah “like”, tapi ciptakan nilai nyata.
Berikan sesuatu yang bisa membantu atau menginspirasi audiensmu:
- Tips bisnis untuk mahasiswa.
- Cerita pengalaman magang atau proyek kampus.
- Ulasan buku, film, atau ide inspiratif yang kamu pelajari.
Gunakan gaya bicara ringan dan jujur agar tetap terasa alami.
Konten yang bermanfaat akan membangun kepercayaan lebih kuat daripada sekadar hiburan singkat.
5. Gunakan Storytelling untuk Membangun Kedekatan
Ceritakan perjalananmu — mulai dari kegagalan kecil, perjuangan kuliah, hingga keberhasilan pertama.
Audiens lebih menyukai cerita nyata daripada pencitraan.
Contoh:
“Aku dulu takut berbicara di depan umum. Tapi setelah ikut pelatihan di UKU, aku mulai berani tampil dan sekarang malah sering jadi moderator acara kampus.”
Cerita seperti ini menunjukkan sisi manusiawi dan menginspirasi banyak orang.
6. Berinteraksi Secara Aktif dengan Audiens
Bangun hubungan dua arah dengan pengikutmu:
- Balas komentar dengan sopan,
- Ajak diskusi melalui polling atau Q&A,
- Sesekali repost dukungan atau testimoni dari teman.
Interaksi membuat personal branding terasa hidup, bukan seperti monolog.
7. Perhatikan Etika dan Jejak Digital
Personal branding juga berarti bertanggung jawab atas setiap postinganmu.
Hindari hal-hal yang bisa merusak reputasi seperti ujaran kebencian, berita palsu, atau konten sensitif.
Sekali kamu dikenal buruk di dunia digital, sulit untuk mengubah persepsi itu.
Mahasiswa UKU dikenal dengan karakter santun dan profesional — jagalah citra itu dalam setiap unggahan.
Dukungan UKU dalam Pengembangan Personal Branding
Universitas Kewirausahaan Umat (UKU) aktif mendukung mahasiswanya agar tampil percaya diri di dunia digital.
Program seperti:
- Workshop “Digital Persona & Online Branding,”
- Pelatihan Konten Kreatif TikTok-Instagram,
- dan Kompetisi Mahasiswa Kreatif UKU,
dirancang untuk membantu mahasiswa membangun citra profesional dan menarik di media sosial.
UKU percaya: setiap mahasiswa punya potensi menjadi brand yang berpengaruh di masa depan.
Kesimpulan
Personal branding bukan tentang menjadi terkenal, tapi tentang dikenal karena sesuatu yang bermakna.
Mahasiswa Universitas Kewirausahaan Umat (UKU) memiliki kesempatan besar untuk menonjol di era digital dengan membangun reputasi positif melalui TikTok dan Instagram.
Mulailah sekarang — jadikan media sosialmu bukan sekadar tempat berbagi, tapi panggung untuk menunjukkan siapa dirimu yang sesungguhnya.

Leave a Reply