Mengetahui omzet saja belum cukup untuk menilai apakah bisnis mahasiswa berjalan menguntungkan. Dua produk dapat menghasilkan penjualan yang sama, tetapi memberikan sisa laba kotor yang berbeda karena harga bahan atau biaya produksinya tidak sama. Di sinilah gross profit margin bisnis mahasiswa dapat membantu.
Gross Profit Margin atau GPM menunjukkan persentase penjualan yang tersisa setelah dikurangi harga pokok penjualan (HPP). Dengan menghitungnya secara rutin, mahasiswa dapat mengenali produk yang paling menguntungkan, mengevaluasi harga jual, dan melihat apakah biaya bahan masih terkendali.
Apa Itu Gross Profit Margin?
Gross Profit Margin adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar laba kotor dibandingkan dengan total penjualan. Laba kotor diperoleh dari penjualan dikurangi harga pokok penjualan.
HPP mencakup biaya yang berkaitan langsung dengan produk atau layanan yang dijual. Dalam bisnis makanan, misalnya, HPP dapat berasal dari bahan baku dan komponen langsung lain yang digunakan untuk menghasilkan produk. Pencatatan HPP perlu dilakukan secara konsisten agar perhitungan margin dapat dibandingkan antarproduk atau antarperiode.
Rumusnya adalah:
Gross Profit Margin = (Laba Kotor ÷ Penjualan) × 100%
Laba Kotor = Penjualan − Harga Pokok Penjualan
Semakin besar persentase GPM, semakin besar bagian penjualan yang tersisa setelah membayar biaya langsung produk. Namun, angka tersebut belum otomatis menunjukkan laba akhir bisnis.
Perbedaan GPM dan Laba Bersih
GPM berbeda dari Net Profit Margin atau margin laba bersih. GPM hanya memperhitungkan penjualan dan HPP. Sementara itu, laba bersih baru dapat diketahui setelah berbagai beban lain dikurangkan, seperti promosi, transportasi, administrasi, dan beban operasional lainnya.
Karena itu, produk dengan GPM tinggi belum tentu memberikan laba bersih terbesar jika membutuhkan biaya promosi atau pengantaran yang lebih besar. Gunakan GPM sebagai alat untuk membaca efisiensi biaya langsung dan menetapkan langkah evaluasi berikutnya, bukan sebagai satu-satunya ukuran kesehatan bisnis.
Cara Menghitung Gross Profit Margin Bisnis Mahasiswa
1. Catat total penjualan
Mulailah dengan mencatat nilai penjualan pada periode yang sama, misalnya selama satu minggu atau satu bulan. Pisahkan penjualan berdasarkan produk jika ingin mengetahui margin masing-masing produk. Pencatatan yang teratur membantu mencegah angka tercampur antara transaksi pribadi dan transaksi usaha.
2. Hitung harga pokok penjualan
Catat biaya langsung yang digunakan untuk menghasilkan produk yang terjual. Hindari mencampurkan beban seperti promosi, transportasi, atau administrasi ke dalam HPP apabila biaya tersebut tidak termasuk biaya langsung produk. Pemisahan ini penting agar hasil GPM dapat dibaca dengan tepat.
3. Tentukan laba kotor
Kurangi total penjualan dengan HPP. Hasilnya adalah laba kotor. Angka ini menunjukkan sisa pendapatan sebelum bisnis membayar beban operasional lain.
4. Hitung persentase GPM
Bagilah laba kotor dengan total penjualan, kemudian kalikan 100 persen. Simpan hasilnya bersama catatan periode dan produk agar dapat dibandingkan pada evaluasi berikutnya.
Contoh Perhitungan Sederhana
Misalnya seorang mahasiswa menjual 100 porsi makanan ringan dengan total penjualan Rp2.000.000. HPP untuk bahan dan kebutuhan langsung produk tersebut adalah Rp1.200.000.
Laba kotor dapat dihitung sebagai berikut:
Rp2.000.000 − Rp1.200.000 = Rp800.000
Selanjutnya, hitung GPM:
(Rp800.000 ÷ Rp2.000.000) × 100% = 40%
Artinya, 40 persen dari penjualan tersisa sebagai laba kotor setelah HPP dikurangkan. Sebanyak 60 persen penjualan digunakan untuk menutup HPP. Dari laba kotor Rp800.000 tersebut, bisnis masih harus membayar beban lain jika ada, seperti promosi, transportasi, atau administrasi.
Cara Membandingkan GPM Antarproduk
Perbandingan akan lebih berguna jika menggunakan periode dan metode pencatatan yang sama. Misalnya, mahasiswa menjual dua produk pada periode yang sama:
- Produk A: penjualan Rp1.000.000 dan HPP Rp600.000. Laba kotor Rp400.000, sehingga GPM-nya 40 persen.
- Produk B: penjualan Rp1.000.000 dan HPP Rp750.000. Laba kotor Rp250.000, sehingga GPM-nya 25 persen.
Berdasarkan GPM, Produk A lebih efisien dalam menghasilkan laba kotor dari setiap rupiah penjualan. Hasil ini dapat menjadi bahan untuk meninjau komposisi bahan, ukuran porsi, pemasok, atau harga jual Produk B.
Jangan hanya melihat persentase. Perhatikan juga nilai laba kotor dan jumlah produk yang terjual. Produk dengan margin lebih tinggi tetapi volume penjualannya rendah perlu dinilai bersama kondisi permintaan dan kemampuan produksi.
Bagaimana Memakai Hasil GPM untuk Evaluasi?
Meninjau harga jual
Jika HPP meningkat sementara harga jual tidak berubah, GPM akan menurun. Catatan GPM dapat membantu mahasiswa menilai apakah harga saat ini masih sebanding dengan biaya langsung dan nilai produk yang ditawarkan.
Mengevaluasi biaya bahan
Penurunan GPM dapat menjadi tanda untuk memeriksa penggunaan bahan dan biaya produksi. Bandingkan catatan antarperiode agar perubahan biaya terlihat lebih jelas. Perubahan hasil sebaiknya ditelusuri sebelum mengambil keputusan.
Menata komposisi produk
Perbandingan GPM membantu menentukan produk mana yang perlu dipertahankan, dikembangkan, atau dievaluasi. Keputusan tetap perlu mempertimbangkan penjualan, kapasitas usaha, dan beban operasional, bukan margin saja.
Pentingnya Pencatatan Keuangan yang Konsisten
Perhitungan GPM hanya akan bermanfaat jika data penjualan dan HPP dicatat dengan cara yang sederhana, konsisten, dan dapat dibandingkan. Buat catatan terpisah untuk tanggal transaksi, produk, penjualan, HPP, dan beban lain. Dengan demikian, mahasiswa dapat melihat kondisi usaha tanpa hanya mengandalkan ingatan.
Bank Indonesia menyediakan pedoman pencatatan transaksi keuangan untuk usaha mikro dan kecil, termasuk penyusunan laporan laba rugi. Bank Indonesia juga mengembangkan SI APIK untuk membantu UMKM menyusun laporan keuangan sederhana dan mendukung kebutuhan informasi dalam akses pembiayaan. Contoh dukungan tersebut dapat dijadikan acuan saat membangun kebiasaan pencatatan usaha.
Kesimpulan
Gross profit margin bisnis mahasiswa dihitung dengan membagi laba kotor dengan penjualan, lalu mengalikannya dengan 100 persen. Laba kotor sendiri merupakan penjualan dikurangi HPP. Melalui perhitungan ini, mahasiswa dapat membandingkan efisiensi produk, mengevaluasi harga dan biaya bahan, serta menyusun komposisi penjualan dengan lebih terarah.
Ingat bahwa GPM bukan laba bersih karena belum memperhitungkan promosi, transportasi, administrasi, dan beban operasional lainnya. Catat transaksi secara rutin dan gunakan hasilnya sebagai dasar evaluasi bisnis yang lebih disiplin.





Leave a Reply